<data:blog.pageTitle/>

This Page

has moved to a new address:

https://lagilagi.in

Sorry for the inconvenience…

Redirection provided by Blogger to WordPress Migration Service
Lagi-Lagi In - Media nyentrik, minim intrik, sedikit menggelitik.

Tuesday, July 2, 2019

Apa Salahnya Jadi Manusia Bertopeng?

Suatu kelucuan membuat saya terbelalak ketika  ada yang mempermasalahkan “topeng” kepribadian seseorang. Entah mau marah atau apa, tapi jadi kasihan melihatnya, karena dia tidak tahu bahwa sesungguhnya manusia pasti bertopeng. Sekali lagi saya tegaskan, manusia pasti bertopeng.

Sedikit cerita, si Budi kesal dengan Rido karena membicarakannya di belakang. Apalagi, Rido menjelek-jelekkannya. Budi pun mencap Rido sebagai manusia bertopeng dan kurang ajar. Suatu hari, Budi diajak main sama Rudi. Karena tidak enak, akhirnya Budi pun ikut main dan tertawa bersama.

Jadi, siapa yang bertopeng?




Gambar di atas sedikit merepresentatif kekesalan saya terhadap orang-orang yang norak dengan ketopengan. (Makasih Kane, lu sudah membuat gw tertawa terbahak-bahak).

Banyak yang bilang dan pepatah bilang, ‘Be Yourself’. Yang maksudnya ialah, jadilah diri sendiri. Apa maksudnya jadi diri sendiri? Ya menjadi diri sendiri. Maka kata ini kurang tepat.

Lebih tepat, jadilah apa yang kita mau. Lalu apa yang kita mau? Entah itu menjadi seorang yang dipandang baik/lucu/manis/jelek --sesuai keinginan kita-- dihadapan orang lain. Maka dari itu, apakah kita bisa menjadi diri sendiri?

*Bagus Kane, lu sudah menggambarkan lagi ekspresi gw ketika melihat orang berkata jadilah diri sendiri.*

Mengenakan topeng kepribadian adalah fitrah setiap manusia. Sebagai mahluk yang hidup yang berakal dan berbudi, kehadiran topeng menjadi penting demi membangun konstruksi perilaku yang unik, berbeda, satu sama lainnya.

Kehadiran topeng, dapat membuat manusia nyaman untuk berinteraksi sesuai tempatnya. Seperti di kantor, maka bertopenglah seperti pekerja baik; di rumah, maka bertopenglah seperti kesayangan mamah; di jalanan, maka bertopenglah selayaknya anak jalanan; dan lain sebagainya.

Fenomena topeng kepribadian itu pun dipraktikan secara harfiah oleh orang-orang Jepang, dengan nama Zentai. Jika kalian tidak malas untuk mencari di google image, maka dapat ditemukan orang-orang yang sengaja menutupi seluruh tubuhnya dengan bahan semacam kain lentur dari kaki hingga ke wajah.


Apakah Anda tahu mengapa mereka melakukan itu? Karena mereka merasa “gerah”, penat, dan tertekan dengan rutinitas yang membebani kehidupan sehari-hari. Untuk itu, mereka pun tidak mau terlihat “jelek” di antara orang-orang lain. Akhirnya, lahirlah komunitas Zentai. Hasilnya, mereka lebih bergairah mengeskpresikan segalanya, baik gerak lekuk tubuh dan sebagainya yang mereka ingin lakukan atau ekspresikan.

Sama halnya dengan manusia pada umumnya, yang sejujurnya tak bisa menjadi diri sendiri selama masih ada orang lain. Lebih tepatnya, manusia hanya bisa memilih ingin menjadi apa, untuk bisa dianggap apa di mata orang lain.

Baca Juga: Apakah Cantik Itu Relatif?

Seorang psikolog bernama Gordon W. Allport, menegaskan bahwa pada hakekatnya, kepribadian itu tak lain merupakan suatu rangkaian organisasi dinamis dari sistem psiko-fisik individu, yang berfungsi untuk mengkonstruksi pola-pola penyesuaian dirinya yang unik terhadap lingkungannya.

Dengan demikian bisa dipahami dengan bertopeng, manusia justru merasa bisa menjadi apa yang mereka mau terlepas dari beban psikologik yang bersumber dari tuntutan rutinitas kerja, kekangan tradisi, maupun kesumpekan tatanan kehidupan bermasyarakat. Maka, jangan lagi ada marah-marah karena tidak terima banyak manusia bertopeng.

Hal ini pun sudah direfleksikan secara mendalam oleh Ellias Canetti, filsuf asal Bulgaria, dalam bukunya berjudul Crowds and Power (1984). Baginya, manusia itu seperti juga ulat dan kupu-kupu, adalah mahluk yang dapat bermetamorfosis.

Artinya, manusia adalah mahluk tolol dan dungu yang bisa terus berubah, tidak konsisten akan satu identitas saja, tetapi terfragmentasi dalam lapisan-lapisan dirinya, yang muncul satu demi satu tergantung kondisi yang ia hadapi. Yang pasti ya, buat yang merasa masih mempermasalahkan ketopengan seseorang, nih saya jelaskan, topeng apapun yang dikenakan, maka orang itu akan melebur dengan topeng itu, suka ataupun tidak.

Jadi, jika kalian tetap kekeuh dengan be yourself. Silahkan saja. Tapi berjanjilah ketika kalian dibilang tolol dan tidak menarik, kalian tetap pada pendirian kalian: “Be yourself”. Be your Fak!

Gambar Kane biar kane:




Sumber 1, 2, 3. 4, 5  

Labels: , ,

Wednesday, June 26, 2019

Apa Salahnya Ambisius?

"Dasar ambis," kata Nunung cetus. Ia kesal melihat satu temannya sudah mengerjakan tugas, padahal Nunung sendiri belum. Akhirnya Nunung pun menjauhi temannya itu. Sementara temannya, tetap konsisten mengerjakan tugas tepat waktu dan tidak perduli dengan Nunung.

Temannya Nunung cerdas, temannya Nunung punya visi, temannya Nunung tidak sombong. Jadilah seperti temannya Nunung.

sumber gambar: greatpeoplemaker.blogspot.co.id


Pemuda sekarang, entah mengapa, lebih senang santai-santai. Melihat waktu semurah-murahnya sehingga kalau bisa cepat berlalu. "Ah capek banget. Pengen cepet-cepet nikah gw," keluh Nunung saat mengerjakan tugas yang menumpuk.

Padahal, kita sama-sama tahu bahwa waktu itu tidak bisa diputar kembali. Sementara belakangan, menjadi tepat waktu itu malah dikatai "ambis" atau ambisius. Lalu apa salahnya menjadi ambis?

Menurut paham saya, tidak ada salahnya selama masih mengikuti aturan yang berlaku. Jika saya jadi Nunung, saya pun tidak akan nyinyir mengata-ngatai "dasar ambis".

Saya pun tidak akan sewot jika banyak teman saya yang ambis. Justru itu memicu saya untuk lebih cerdas dan lebih baik lagi dalam memanfaatkan waktu. Itu akan menjadi lingkungan yang positif, persaingan yang positif, pertemanan yang positif.

Tidak ada konflik pribadi "takut dibilang ambis" atau apapun itu, yang menurut saya justru menjadi alasan untuk malas. Jadi bagi saya, justru ejekan ambis itu menyesatkan.

Saya pun tidak akan risih jika dikatai ambis. Kecuali suatu saat nanti ambis itu dilarang Undang-Undang dan saya menjadi buron karena tingkah laku ambis saya. Jika sudah seperti itu, barulah saya akan pindah negara.

Jadi, tidak perlu takut untuk dikatai ambis. Anggap mereka bodoh karena telah membuang-buang waktu.

→ Penulis Si #PeIsengMikir: @Hotlasmora

Labels: , ,

Monday, June 24, 2019

Awet Muda itu Mudah

Manusia cenderung ingin hidup lebih lama. Bisa diartikan mereka ingin tetap muda. Bukankah seperti itu pembaca? (Iya..)

Jika manusia ingin tetap muda, seharusnya mereka membuat inovasi canggih untuk mewujudkannya. Katanya, dalam seminar yang belakangan saya ikuti, ada penelitian yang bertujuan untuk membuat manusia hidup selama mungkin meski hampir mustahil karena harganya sangat mahal.

Ilustrasi (Foto: Pinterest)


Untuk itu, sepertinya sulit bagi masyarakat biasa (termasuk Anda) mewujudkannya. Lalu bagaimana solusinya? Berikut tiga tips dari Saya yang luar biasa agar Anda tetap awet muda:


1. Tidak membosankan

Bagi Saya, menjadi muda bukan hanya soal umur, tapi pikiran. Selagi belum ada penemuan yang bisa memperpanjang umur, paling tidak pikiran kita tidak termakan usia.

Ya, anak muda identik dengan keseruan dan kegilaan. Jelas bahwa untuk menjadi tetap muda, sebaiknya tidak membosankan bukan? (Iya..)

2. Tetap Ingat saat Itu

Pernahkah kalian mengingat kenangan indah saat itu? Ya saat dimana Anda begitu bahagia untuk pertama kalinya. Misal, bahagianya Anda saat menikah. Itupun kalau bahagia ya, kalau tidak, sebaiknya ganti ke topik lain. Seperti pertama kali bisa berbicara, pertama kali mengedipkan mata, atau apapun itu yang pertama kali.

Dengan mengingat hal yang pertama kali terus menerus, maka rasa bahagia itu sangat mungkin bertahan. Jadi Anda tidak akan memakai alasan bosan untuk berhenti.

(post-ads)

Misalnya seperti “Kayaknya kita udah nggak cocok deh”. Jika ada yang berkata seperti itu, berarti dia sudah tua. Tinggalkan! karena sebentar lagi ajalnya menjemput.

Ekstra Tips: Hal ini pun berfungsi buat para lelaki jika wanita kalian mulai membahas masa lalu. Seperti “Dulu kamu romantis banget kirim surat cinta mulu ke aku, kok sekarang enggak?” sambil mewek sok imut.

Jika mendapat pertanyaan mematikan seperti itu, maka kalian para lelaki sebaiknya menjawab, “Memang benar aku tidak melakukan itu lagi. Tapi semangatku masih sama seperti saat pertama mengenalmu, maka Aku mencintaimu dengan cara yang lebih baik dan lebih baik lagi,” kiamat pun batal.

3. Tetap Belajar

Anak muda identik dengan sekolah. Maka jika kalian ingin tetap berpikiran muda, belajarlah.

Umur bukan alasan untuk berhenti belajar. Orang tua pun perlu melihat perkembangan zaman agar tau cara terbaik mendidik anaknya.

Ekstra Tips: Untuk orang tua, jadilah sahabat dari teman-teman anak Anda. Buatlah mereka senang bermain di rumah Anda. Dengan begitu, teman-teman anak Anda akan mempengaruhi anak Anda agar bertindak sesuai dengan kehendak Anda (Anda Anda Anda). Bagaimana caranya? Belajar!

Sepertinya tiga tips di atas sudah mampu membuat Anda merasa kesal bercampur senang. Jika tidak senang atau kesalpun, ya tidak mengapa, apa urusan Saya?

→ Penulis @Hotlasmora

Labels: , ,

Haruskah Kita Hidup Bersama Junk Food?

Jurnal Fast Food

Haruskah kita hidup bersama junk food? Pertanyaan itu tiba-tiba muncul di benak gue pas lagi nongkrong di salah satu produsen junk food ternama, yaitu McDunal.

Ada kebingungan dalam diri ini, mengapa harus makanan sampah ini yang gue pilih? Mengapa makanan sampah ini juga yang banyak dipilih orang? Dan mengapa kita harus hidup bersama Junk Food?

Kali ini gue bakal membahas bahaya makanan fast food ini, dengan cukup mendalam, tapi tak sedalam jurnal-jurnal anak kuliahan.

Junk Food adalah makanan kurang nutrisi, tidak sehat dan banyak lemak. McDunal, KaFCe, dan Puzza Hat merupakan beberapa produsen makanan sampah tersebut.

Tempat-tempat makan itu sangat digandrungi masyarakat, terutama kaum milenial. Selain karena enak, mungkin tempatnya juga nyaman.

Apalagi di kehidupan perkotaan seperti Jakarta. Hampir setiap 1 kilometer ada KaFCe, McDunal, atau tempat-tempat makan yang segenre dengan mereka.

Jangan-jangan, hal itu juga yang ngebuat gue dan orang-orang harus terbiasa dengan makanan sampah?

Apalagi gue hidup di negara berkembang, Indonesia. Negara yang menjadi incaran produk-produk luar untuk dipengaruhi.

Riset tahun 2015 yang diterbitkan The Lancet dan Lancet Global Health, menunjukkan bahwa masyarakat di negara-negara berkembang mudah dipengaruhi oleh iklan-iklan junk food. Camilan dan soft drink menjadi favorit kita masyarakat berkembang.

Jurnal fast food
Sampah-sampah ini juga berperan merusak bumi

Akibatnya, masyarakat miskin pun bukan semakin membaik malah makin buruk. Padahal, Amerika Serikat sendiri, yang bisa dibilang tuan rumah makanan junk food, malah lebih sehat dibanding Argentina.

Hal ini mengherankan, karena seharusnya masyarakat miskin bisa hidup lebih sehat dengan membeli umbi-umbian ketimbang paket panas. Harga keduanya jelas lebih jauh dan jelas, margin itu dapat menolong kemiskinan mereka.

Balita-balita pun diberi makan junk food.


Gue sering melihat balita-balita makan kentang goreng atau ayam kremes hasil produsen junk food. Orangtuanya menyuapi dengan santai, tanpa khawatir akibatnya.

Mungkin orang tua itu tidak tahu dampaknya, tapi orang-orang di Mesir telah merasakannya. Pertumbuhan balita di sana terhambat akibat minimnya gizi.

(post-ads)

Anak-anak di Brazil, Vietnam, Afrika Selatan, India, Meksiko dan beberapa negara yang dulunya miskin tapi sekarang maju pun banyak yang terlihat kerdil. Kalaupun jadi gendut, itu karena obesitas, bukan sehat.

Bagaimana di Indonesia? 


Mungkin terlalu luas jika gue bahas negara ini, oleh karena itu gue persempit menjadi, bagaimana dengan Jakarta?

Di Jakarta sungguh miris, junk food telah menjadi teman sarapan. Gue pun kadang ikut-ikutan, padahal rasanya tidak enak --Lebih enak bubur kacang hijau atau bubur ayam naik haji.

Padahal menurut survei Qraved kepada 13,890 koresponden, sebanyak 92% orang Jakarta telah sadar akan bahaya junk food. Tapi nyatanya, 52% dari warga Jakarta malah tetap sarapan junk food.

Apa alasannya? Beragam.


Ada yang bilang enak, ada yang beralasan sibuk tidak punya waktu banyak, ada yang bilang praktis.

Yah tidak mudah memang menghindari godaan junk food. Tapi sebaiknya seimbangkan pola makan dengan olahraga rutin, perhatikan cara masak dari junk food yang Anda konsumsi, baca kandungan nutrisi pada kemasan junk food dan atur asupan junk food-nya.

Jadi, haruskah kita hidup bersama junk food? Lebih baik bawa makanan sendiri, atau paling tidak bawa tempat minum seperti gue ini.

Jurnal Fast Food

Pelan-pelan, gue akan meninggalkan kehidupan junk food ini.

Yuk kalian juga! biar kita tidak jadi negara berkembang yang "bodoh", mudah diakal-akali produsen junk food. Sekian jurnal fast food ini, eh artikel ini, semoga kalian dapat tercerahkan agar tidak sering mengonsumsi makanan siap saji.

*Artikel ini sudah terbit sebelumnya di hotlasmore.id


→ Penulis @Hotlasmora

Labels: , ,