<data:blog.pageTitle/>

This Page

has moved to a new address:

https://lagilagi.in

Sorry for the inconvenience…

Redirection provided by Blogger to WordPress Migration Service
Lagi-Lagi In - Media nyentrik, minim intrik, sedikit menggelitik.

Friday, October 2, 2020

Superhero Muslim Pertama Marvel Siap Digarap

Superhero Muslim Pertama Marvel Siap Digarap, bahas yang lagi in di dunia film

#Movielagi - Superhero muslim pertama Marvel akhirnya bakal digarap. Iman Velliani menjadi aktris yang beruntung untuk memerankan Ms. Marvel.

Ya Ms. Marvel yang bernama asli Kamala Khan akan segera diperkenalkan ke semesta sinematik Marvel.

Namun bukan dalam bentuk film, melainkan serial yang akan tayang di Disney+.

Serial ini disutradarai oleh Adil El Arbi dan Bilall Fallah. Duo sutradara muslim ini pernah menggarap film "Bad Boys For Life"yang tayang Januari lalu di Indonesia.

Adapun pemeran Ms. Marvel akan diperankan oleh Iman Velliani. Aktris muda pendatang baru ini berhasil jadi cast pertama semesta sinematik Marvel yang beragama islam.

Siapa itu Ms. Marvel? Apa bedanya dengan Captain Marvel?

Superhero Muslim Pertama Marvel Siap Digarap, bahas yang lagi in di dunia film

Pada versi komik, Ms. Marvel muncul pertama kali pada Februari 2014. Kisahnya ditulis oleh G. Willow Wilson, seniman Adrian Alphona, dan editor Sana Amanat, dan juga Stephen Wacker.

Dalam ceritanya, Ms. Marvel atau Khamala Khan adalah seorang superhero wanita kebangsaan Pakistan - Amerika. Ia tumbuh sebagai Muslim Amerika yang tergolong minoritas di sana.

Ia begitu mengidolakan sosok Carol Danvers yang merupakan Captain Marvel sejak kecil. Bahkan Khamala mengetahui seluruh informasi tentang Captain Marvel dari berbagai media.

Suatu saat, Khamala tumbuh menjadi seorang remaja. Ia ingin sekali menghadiri pesta Jersey Waterfront karena ingin dianggap gaul oleh teman-temannya.

Namun sayang, ia dilarang pergi oleh keluarganya. Khamala pun masih keras kepala dengan diam-diam keluar rumah.

Sayang kehadirannya tidak disambut baik oleh teman-temannya. Ia malah dibully hingga ia memilih pulang sambil menangis.

Kekuatan Ms. Marvel

Superhero Muslim Pertama Marvel Siap Digarap, bahas yang lagi in di dunia film

Dalam perjalanan pulang, tiba-tiba ada bencana kabut yang disebabkan oleh Black Bolt. Khamala pingsan karena paparan radiasi tersebut.

Saat terbangun, ia merasa ada kekuatan aneh dalam tubuhnya. Khamala jadi lebih berani dan bisa menghentikan pencuri ketika mengunjungi rekannya.

Tangannya bisa memanjang dan menggenggam pencuri tersebut hanya dengan satu tangan. Sejak itulah ia sadar bahwa dirinya luar biasa.

Ia pun memutuskan menjadi superhero dan menamai dirinya Ms. Marvel karena begitu mengidolakan Captain Marvel.

Pertarungan pertama Ms. Marvel bersama Avengers adalah saat ikut Iron Man,Thor, Vision dalam cerita “Secret Wars” Maret 2015.

Superhero Muslim Pertama Marvel Siap Digarap, bahas yang lagi in di dunia film

Marvel mengumumkan bawa Khan akan bergabung dengan Avenger di “All- New, All – Different Avengers” yang ditulis oleh Mark Waid dan mengambil latar setelah “Secret Wars”.

Ms. Marvel adalah superhero termuda di Marvel. Ia menggeser posisi Peter Parker si bocah laba-laba alias Spiderman.

Setelah cerita “Civil Wars II” Ms.Marvel memutuskan untu keluar dan membangun tim superhero sendiri yang berisikan anak-anak muda bernama The Champions.

Begitulah kisah Ms. Marvel. Luar biasa, salut sama Marvel. Semoga seriesnya booming dan dibuat dalam bentuk film ya. Aamiin.

(post-ads)

Labels: ,

Saturday, August 29, 2020

Low Budget, Film India ini Pakai Sikat buat Properti Medis

Low Budget, Film India ini Pakai Sikat buat Properti Medis, Berita lucu, berita viral, berita kocak, artikel kocak, artikel lucu, berita unik, unik tapi fakta, berita aneh, berita luar biasa, fakta unik, kasus unik, info lucu, info unik, kisah unik, berita menarik, berita unik dunia, kapan lagi aneh, yang unik-unik, kabar yang lagi in, hits, baru nasional.

#Movielagi - Dalam adegan gawat, tiba-tiba sang dokter mengeluarkan alat, tapi kok... itu kan sikat?

Begitulah kira-kira ekspresimu saat menyaksikan film India low budget ini.

Jika dilihat secara keseluruhan, situasi tersebut terlihat normal-normal saja. Tampak dokter memakai alat pelindung diri (APD) lengkap, sedang berusaha membangunkan pasien yang sedang kritis.

Suasana terlihat tegang ketika dokter akan bersiap memacu jantung pasiennya.

Low Budget, Film India ini Pakai Sikat buat Properti Medis, Berita lucu, berita viral, berita kocak, artikel kocak, artikel lucu, berita unik, unik tapi fakta, berita aneh, berita luar biasa, fakta unik, kasus unik, info lucu, info unik, kisah unik, berita menarik, berita unik dunia, kapan lagi aneh, yang unik-unik, kabar yang lagi in, hits, baru nasional.

Jika seharusnya para dokter menggunakan alat defibrillator (alat pacu jantung), adegan dalam film ini justru memperlihatkan alat sikat kamar mandi.

Kebanyakan orang mulai menyadari ketika properti yang menyerupai defribrillator ini menempel di dada pasien.

Warna hijau yang ada pada alat tersebut langsung dibuktikan dengan foto asli alat sikat kamar mandi.

Low Budget, Film India ini Pakai Sikat buat Properti Medis, Berita lucu, berita viral, berita kocak, artikel kocak, artikel lucu, berita unik, unik tapi fakta, berita aneh, berita luar biasa, fakta unik, kasus unik, info lucu, info unik, kisah unik, berita menarik, berita unik dunia, kapan lagi aneh, yang unik-unik, kabar yang lagi in, hits, baru nasional.

Akhirnya, banyak warga Twitter yang dibuat tertawa dengan tingkah film India ini.

Ada-ada aja...

Artikel Filmlagi yang lagi in lainnya:

Labels:

Wednesday, August 26, 2020

Tonton "Tilik", Film Pendek yang Gambarin Dua Kubu Netizen Indonesia, Seru Nih!

Tonton Tilik, Film Pendek yang Gambarin Dua Kubu Netizen Indonesia, Seru Nih, Berita Lucu, Film Lucu

#Movielagi - Ghibah versus skeptis, mana yang bakal menang?⁣

Film "Tilik" mampu menggambarkan persaingan kedua perspektif yang biasa muncul dari para netizen itu dalam melihat masalah, terutama masalah sosial.⁣

Dalam film yang diunggah Channel Youtube Ravacana Films ini ada karakter Bu Tejo dan Yu Ning, yang aktingnya mendapat respon yang luar biasa dari para netizen.⁣

Film ini sendiri sebenarnya sudah di rilis sejak tahun 2018, namun baru meledak belakangan ini.⁣ Hal itu karena film ini baru ditayangkan lewat YouTube.⁣

(post-ads)

Film Tilik berkisah soal ibu-ibu yang ingin menjenguk ibu lurah. Mereka semua terpaksa naik truk karena tak ada bus yang bisa mengantarkan mereka akibat terlalu mendadak.⁣

Dalam perjanalan, ada Bu Tejo yang selalu membawa topik gosip alias gibah.⁣ Di sisi lain ada Bu Yu Ning yang skeptis dan tak mudah percaya perkataan Bu Tejo.⁣

Konflik terus terjadi hingga mereka sampai di rumah sakit untuk bertemu Bu Lurah...⁣

Gimana akhirnya? Tonton aja langsung "Tilik" di bawah ini:

Artikel Filmlagi yang lagi in lainnya:



Labels:

Monday, July 27, 2020

Terobsesi Fotografi, Pria ini Bangun Rumah Rp1,4 M Berbentuk Kamera


Seorang pria bernama Ravi Hongal dari India membuktikan cintanya pada profesi fotografer. Ia pun membuat rumah berbentuk kamera yang nilainya $95,000 alias setara Rp1,4 miliar.
Nggak cuma rumah, pria 49 tahun itu juga menamai anak-anaknya Canon, Nikon, dan Epson. Sangat eksentrik bukan?

Ravi Hongal memang sangat terobsesi dengan fotografi sejak kecil, ia sangat suka kamera Pentax dan Zenit karena membuatnya percaya diri sebagai fotografer.
Kecintaannya itu membuatnya tekun mendalami bidang fotografi hingga berhasil membuka studio sendiri bernama 'Rani', seperti nama istrinya.

Ravi pun viral karena video Youtube-nya yang membahas rumah yang baru ia bangun. Dalam video itu, ia memamerkan rumah berbentuk kamera yang didominasi warna abu-abu.
Nggak cuma bentuknya, merk kamera pun ia cantumkan di sana. Ada Epson, Nikon, dan Canon, seperti nama anak-anaknya.
Detil-detil lain juga ada, seperti film 35mm dan SD Card 64GB. Makin kental deh fotografinya.
Dibanding rumah di sekitarnya, rumah Ravi yang paling mencolok. Apalagi kalau malam hari, rumahnya semakin mencuri perhatian dengan penerangan yang estetik.

Desain Interior Rumah Kamera

Kalau bradsis penasaran dengan penampakan bagian dalam rumahnya Ravi Hongal, bradsis bisa lihat video di bawah ini:


Labels: , ,

Thursday, June 18, 2020

Kemendikbud dan Netflix Berkolaborasi, Tayangin di TVRI

Kemendikbud dan Netflix Berkolaborasi, Tayangin di TVRI

Kemendikbud bakal bekerjasama dengan Netflix dalam menayangkan film-film dokumenter yang edukatif.⁣⁣

Film-film itu diambil dari Netflix dan disiarkan kembali di TVRI mulai Sabtu, 20 Juni ini, tepatnya pukul 21.30 WIB dan tayang ulang setiap Minggu dan Rabu pada pukul 09.00 WIB.⁣⁣

Langkah ini diambil untuk edukasi siswa-siswi yang kesulitan mengakses internet. "Kemendikbud tetap berkomitmen untuk menyediakan tayangan berkualitas tinggi yang mendidik dan menghibur,” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim, dilansir dari Kompas.com.⁣⁣


“Program Belajar dari Rumah di TVRI ditujukan untuk membantu peserta didik, orang tua, dan guru yang memiliki keterbatasan akses internet, baik karena kendala ekonomi maupun geografis,” jelas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim, dilansir dari Kompas.com.

Nadiem menambahkan, “Tidak terkecuali pada masa libur sekolah, Kemendikbud tetap berkomitmen untuk menyediakan tayangan berkualitas tinggi yang mendidik dan menghibur.”

Buat bradsis yang mau nonton, ini tayangan Netflix yang disiapkan Kemendikbud:⁣⁣

a. Our Planet⁣⁣




Film dokumenter ini melibatkan 600 crew members dan ditayangkan di 50 negara. "Our Planet" fokus pada keanekaragaman habitat di seluruh dunia, dari Arctic, kedalaman laut, hingga di Afrika.

Peraih penghargaan Emmy dan BAFTA, Sir David Attenborough pun dipilih menjadi narator tayangan ini.

b. Street Food Asia⁣⁣



Kalau film ini, menghadirkan petualangan kuliner dan budaya dari seluruh penjuru Asia. Jangan nonton dengan perut kosong, biar nggak ngiler...

c. Tidying Up With Marie Kondo⁣⁣



Seorang instruktur, Marie Kondo, memamerkan kepiawaiannya merapikan perabotan yang berantakan. Lebih dari merapikan, serial ini pun menunjukkan proses merapihkan barang-barang yang berantakan sehingga hidup lebih esensial.

d. Spelling The Dream⁣⁣



Film dokumenter inspiratif ini berkisah soal kisah nata warga India-Amerika yang berhasil memenangkan kompetisi spelling bee.

Mengambil empat perspektif kompetitor, dokumenter ini mengungkap rahasia bagaimana warga India-Amerika bisa terus menjuarai kompetisi spelling bee sejak tahun 1999.

e. Chasing Coral⁣⁣



Ada yang aneh dengan terumbu karang di berbagai laut, mereka banyak yang hilang.

Itulah kenapa film dokumenter "Chasing Coral" ini dirilis. Film ini dibuat dari hasil kerja sama antara penyelam, fotografer, dan ilmuwan dalam mencari tahu hilangnya terumbu karang itu.

Mereka berusaha memecahkan misteri bawah laut untuk dibagikan ke penonton.

f. Night On Earth⁣⁣




Seperti judulnya, film ini berlatar waktu pada malam hari. Istimewanya, "Night on Earth" direkam dengan teknologi canggih yang mampu melihat kehidupan liar dalam kegelapan.

Labels: ,

Thursday, May 21, 2020

Drive-in Cinema Jakarta Bakal Tayangin Film yang Beda

Drive-In Cinema Jakarta Indonesia

Lagilagi.in - Event Organizer and Contractor (Ergo and Co) tengah menggodok rencana drive-in cinema di kawasan Jakarta. Kesempatan ini nantinya digunakan untuk premier film Indonesia yang belum sempat rilis karena Covid-19.

Menurut Adam Hadziq, Founder Ergo and Co, selain membidik film baru, drive-in cinema juga menyiapkan judul-judul film keluarga.

"Untuk film-film baru, kita masih kejar. Untuk film lokal kemungkinan kita akan ada premier film baru dan sampai hari ini penjajakan sudah hampir finish. Jadi segera bisa kita keluarkan informasi mengenai film-filmnya," kata Adam saat berbincang dengan Yasha Chatab @disrupto.id, Rabu 20 Mei 2020.

Mereka memastikan film yang ditayangkan bukan koleksi klasik maupun film box office. "Tapi terus terang untuk film box office kita tidak bisa putarkan di penayangan karena terkait rights dan segala macam," kata Adam.

Drive-in cinema direncanakan menampung 150 mobil untuk satu kali menonton film dengan penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Ergo adn Co menargetkan ratusan mobil dalam sehari dengan 2-3 penayangan film di satu layar.

Drive-In Cinema Jakarta segera dibuka di jakarta


"Jarak antarmobil minimal 2 meter, jarak ke depan-belakang minimal 3 meter dan orang yang datang ke sana tidak diperbolehkan untuk keluar dari mobil karena semua harus ikut aturan main yang sudah kita tetapkan dan ikut aturan pemerintah," kata Adam.

"Begitu mereka awal datang ke dalam suatu area yang kita tentukan, mereka harus ikut (peraturan)," jelasnya.

Lokasi drive-in cinema dipastikan bersifat nomaden atau berpindah-pindah. Sebab, dari segi biaya operasional diakui sangat tinggi. Untuk saat ini, Adam memastikan rencana drive-in cinema hampir selesai dari sisi persiapan.

Sedikit kilas balik, Indonesia pernah memiliki drive-in cinema besutan Ciputra. Mengutip catatan Historia, Ciputra memeroleh ide membangun drive-in cinema setelah melihatnya di New York dan Amerika Serikat.

Drive-in cinema atau teater kendara Indonesia didirikan oleh Ciputra di kawasan Ancol, dulu disebut Pantai Binaria pada 1 April 1970. Driven-in cinema di Ancol dikenal pertama dan terbesar di kawasan Asia Tenggara.

Labels: ,

Monday, July 1, 2019

Konyolnya Jake Gyllenhaal usai Premiere Far From Home




Pada malam premiere film Spiderman: Far From Home, ada kejadian konyol yang dilakukan oleh Jake Gyllenhaal. Pemeran Mysterio itu punya selera humor yang boleh juga...

Jadi, pada 27 Juni lalu, digelarlah premier film Spiderman: Far From Home. Setelah menonton, segalanya disibukan dengan wawancara dan foto-foto.

Hingga sampailah pada saat makan malam. Entah ini disengaja atau tidak, Jake mencoba menjadi Mysterio di dunia nyata.

Seperti kita tahu, kepala Mysterio saat sedang berperang akan ditutupi semacam bulatan penuh tanpa lubang sama sekali. Nah, Jake mencoba makan dan minum dengan helm tersebut tapi memakai baju yang kasual.

Baca Juga: (Review) Brightburn: Superman Cilik Yang Jahat!

Alhasil, makanan yang diarahkan ke mulutnya pun berjatuhan, begitu juga minumannya. Jelas, tak ada lubang sama sekali pada helm tersebut.

Video itu pun diunggah Jake ke akun Instagram-nya dan mendapat 4,190 komentar. Rata-rata tertawa terbahak-bahak dan setuju bahwa itu adalah hal yang konyol.

Mau lihat kekonyolan Jack Gyllenhaal? Berikut videonya:




Untuk diketahui, setelah Iron Man gugur dalam peperangan melawan Thanos di Avengers: Endgame, Peter Parker masih merasa sedih. Iya masih butuh sosok mentor seperti Tony Stark yang mampu membuatnya semakin dewasa jadi superhero.

Segala kegelisahan itupun tertuang dalam film Spider-Man: Far From Home, sekuel dari Homecoming (2017) yang sekaligus penutup fase kegita MCU. Dalam film ini, Peter diberi tugas yang cukup berat baginya karena "menggantikan" Iron Man dalam menjaga bumi.

Baca Juga: Jika Film Avengers Dibuat Pada Tahun 90an Silam

Ia dipertemukan dengan Mysterio yang diperankan oleh Jake Gyllenhaal. Mereka berdua akan bekerjasama dalam melawan musuh yang mengancam kehidupan di universe yang berbeda.

Kelanjutan kisahnya bisa kalian tonton aja bulan Juli 2019 ini. Tunggu review lengkap Lagi-Lagi Media ya.

Labels:

Sunday, June 30, 2019

Sejarah Film Horor Indonesia

suzanna hantu


Aristoteles mengatakan, manusia memang senang dengan kisah-kisah seram penuh kekejaman karena bisa membawa katarsis atau kelegaan emosional. Semua kisah seram akan semakin mencekam jika dikemas ke dalam film sehingga menjadi imaji yang mengganggu pikiran.

Film Horor memang cenderung laku di pasaran. Hal itu wajar karena menurut seorang psikoanalisis, Sigmund Freud, horor adalah tentang hasrat terpendam manusia di bawah alam sadar.

Seperti di Indonesia, film horor telah memikat banyak rakyatnya. Saat pertama kali muncul, Indonesia masih bernama Hindia Belanda.

Film Pertama Pengaruhi Pilihan Rakyat


Kisah seram yang paling pertama di Indonesia berjudul Doea Siloeman Oeler Poeti en Item (1934). Kisah ini menjadi film kedua di Indonesia setelah film pertama Indonesia yakni Loetoeng Kasaroeng (1926), karya G Kruger dan L Heuveldorp dipasarkan.

gambar oleh cinemapoetica.com
Sutradara film Doea Siloeman Oeler Poeti en Item adalah Then Teng Chun. Ia memproduksi film ini bersama Cino Motion Pictures. Kisahnya sederhana, yaitu soal dua siluman yang ingin menjadi manusia.

Baca Juga: Sejarah Singkat Perfilm-An Di Indonesia

Sebenarnya, film Doea Siloeman Oeler Poeti en Item atau bisa juga disebut Ouw Peh Coa ini, bukanlah kisah baru. Kisah yang sama sempat beredar dalam buku karangan Lim Ho Hin (1883) dan Tjiong Hok Long (1885) sebelumnya. Buku itu sangat digemari masyarakat peranakan Cina dari golongan timur asing. Bahkan, data dari Tzu You mengklaim rombongan opera Soei Ban Lian sempat mementaskan Ouw Peh Coa pada 1911.

Semenjak saat itu, film-film horor di Indonesia mulai sering menampilkan kisah-kisah legenda rakyat Cina. Selain karena Then Teng Chun, rata-rata pemilik perkumpulan sandiwara adalah orang keturunan Cina. Hal itu jugalah yang mempengaruhi selera masyarakat soal film ingin ditonton.

Mulai Berkembang


Perkembangan film horor begitu pesat berubah setelah film Terang Boelan produksi Nederlandsch Indie Film Syndicaat dan disutradarai oleh Albert Balink sukses di pasaran. Saat itu, mereka memakai pemain-pemain sandiwara untuk filmnya.

Melihat itu, Then Teng Chun yang memang ahlinya film horor, melihat peluang dari cara Albert Balink tersebut. Ia mulai mengajak Ferry Kock dan Dewi Mada dari Dardanella untuk bermain di film-filmnya.

Pada rentang 1940 sampai 1941, perusahaan Then Teng Chun yakni Java Industrial Film, berhasil memproduksi 15 film. Salah satunya berjudul Tengkorak Hidoep (1941) karya Tjoe Hock.

Film Tengkorak Hidoep sangat laku di pasaran. Selain karena efek petir dan tengkorak begerak, kisahnya juga menarik, yakni tentang perjalanan eorang pendekar ke pulau angker.

1971, Saatnya Ratu Horor Indonesia


Setelah sempat fakum karena penjajahan Jepang dan konflik pengakuan kemerdekaan dengan Belanda, perfilman Indonesia kembali bergeliat pada 1949. Saat itu ada 23 film diterbitkan dan terus bertambah hingga 40 judul sampai 1951.

Namun, kembalinya film horor di Indonesia baru muncul pada 1971. Saat film berjudul Lisa karya M Syarieffudin dan film Beranak dalam Kubur karya Awaludin dan Ali Shahab mulai muncul di permukaan.

Suzanna, aktris legenda pefilman horor Indonesia, memulai debutnya di film Beranak Dalam Kubur itu. Ia begitu menakutkan, perannya begitu mencekam, mata tajamnya menghantui pikiran. Wajar, jika ia dijuluki 'ratu horor Indonesia'.

gambar oleh cinemapoetica.com

Keuntungan besar-besaran berhasil diraih PT Tidar Jaya, selaku rumah produksi film Beranak dalam Kubur. Modal yang mereka keluarkan diperkirakan hanya Rp25-35 juta, namun untungnya mencapai Rp72 juta.

Hasil menggiurkan itulah yang membuat perusahaan lainnya memunculkan film horor juga. Tak tanggung-tanggung, ada 22 judul film horor bermunculan pada 1972 sampai 1980. Tak berhenti di situ, angkanya melonjak hingga empat kali lipat setelah satu dekade berlalu.

Film-film itu tak lepas dari peran 'ratu horor Indonesia'. Pada 1981 sampai 1991, dari setidaknya 84 judul film horor yang ada, 16 di antaranya dibintangi Suzanna.

Orde Baru dan Film Horor


Rezim Soeharto begitu ketat membatasi media massa. Berbagai media hiburan dan informasi seperti koran, radio, televisi, bahkan film pun dipantau dengan ketat oleh militernya.

Namun di tengah pembatasan ketat itu, justru perfilman horor Indonesia tumbuh pesat. Saat itu, hantu-hantu khas Indonesia mulai bermunculan. Seperti kuntilanak, sundel bolong, genderuwo, pocong, dan Nyi Roro Kidul.

Suzanna pun semakin digandrungi karena kencantikannya. Untuk diketahui, film-film pada 1970-1990-an itu identik dengan seks, kekerasan, dan komedi. Berbagai adegan panas berani dilakoni Suzanna. Ditambah bang Bokir yang menjadi bumbu lucu di dalamnya, film-film seperti Sundel Bolong (1981), Nyi Blorong (1982), Malam Jumat Kliwon (1986), Ratu Buaya Putih (1988) dan Wanita Harimau (1989) pun sukses di pasaran.


Humor memang menjadi salah satu bentuk pemberontakan yang 'aman' saat itu. Maka wajar, bila film horor bisa begitu digandrungi.

Film Indonesia semakin menguasai pada zaman Soeharto ini. Pasalnya, film impor dibatasi bahkan sampai hanya 200 judul saja pada 1982-an.

Namun, pembatasan itu juga diiringi Kode Etik Produksi Film Indonesia sejak 1981. Aturan itu mewajibkan produksi film nasional untuk senantiasa menjaga moral bangsa. Alhasil, tokoh-tokoh agama kerap muncul dalam film horor demi mewujudkan nilai-nilai moral tersebut.

Film Horor 2000-an Masih Seksi


Sasha Grey dalam Pocong Mandi Goyang Pinggul (foto: cinemapoetica.com)
Rezim Orde Baru memang penuh aturan, namun aturan itu menimbulkan pandangan negatif dan kecurigaan pada kehidupan modern. Film-film saat itu jadi cenderung berlatar pedesaan dan kisah-kisah kota hanya sekilas saja.

Semua itu membuat jenuh para penikmat film. Apalagi pada 1990-an, sejumlah stasiun televisi swasta nasional mulai bermunculan. Seperti RCTI, SCTV, ANTV, TPI dan Indosiar. Mereka berhasil membuat hiburan baru bagi masyarakat dan membuat para pekerja film hijrah ke industri televisi.

Dunia perfilman pun semakin sakit setelah krisis ekonomi menghantam Indonesia dan berujung runtuhnya rezim Orde Baru Soeharto pada Mei 1998. Saat inilah, pertelevisian mulai memperkenalkan reality show horor ala mereka. Seperti  Dunia Lain di Trans TV, Uka-Uka di TPI, Ekspedisi Alam Gaib di TV7, hingga Pemburu Hantu di Lativi.

Saat pertelevisian mulai menguasai dunia horor, Jose Poernomo dan Rizal Mantovani mengambil sudut yang berbeda. Mereka berdua justru memproduksi film horor dengan judul Jelangkung pada 2001.

Hanya perlu dua minggu untuk pengambilan gambar dan produksi sekitar Rp1 miliar, film ini berhasil mendatangkan 1,5 juta penonton di seluruh Indonesia. Film horor ini berhasil menyaingi kesuksesan Petualangan Sherina (2000) karya Riri Riza yang menghabiskan biayar Rp2 miliar.

Film Jelangkung sebenarnya terinspirasi dari kisah-kisah uji nyali di televisi. Kisahnya tentang empat sekawan asal Jakarta yang terbawa rasa penasaran mencari penampakan setan hingga ke desa Angkerbatu, Jawa Barat. Di sana mereka melakukan ritual jelangkung untuk memanggil arwah yang berujung pada kemunculan berbagai peristiwa mistis nan mencekam.

Tren film sejenis itu pun mulai digemari para anak muda. Film-film serupa bermunculan seperti Hantu (2007) karya Adrianto Sinaga, Pulau Hantu (2007) karya Jose Purnomo ataupun Air Terjun Pengantin (2009) karya Rizal Mantovani.

Film-film itu masih menggunakan cara klasik, yaitu menambahkan bumbu-bumbu seks dan komedi ke dalamnya. Wanita-wanita seksi dan "badut-badut" pencair suasana kerap berkolaborasi di dalamnya. Contohnya, Melanie Ariyanto dan Rony Dozer dalam Jelangkung (2001), Nia Ramadhani dan Mastur dalam Suster Ngesot (2007), serta Dewi Persik dan Rizky Mocil dalam Setan Budeg (2008).

Bumbu seks dan komedi pun semakin menggila. Artis film porno luar negeri diajak juga sebagai pemeran film-filmnya horor Indonesia. Seperti Rin Sakuragi di film Suster Keramas (2009), Maria Ozawa dalam Hantu Tanah Kusir (2010), Sora Aoi dalam Suster Keramas 2 (2011), Tera Patrick di Rintihan Kuntilanak Perawan (2010), dan Sasha Grey dalam Pocong Mandi Goyang Pinggul (2011).

Ongkos murah, penonton banyak, keuntungan pasti didapat. Hal-hall inilah yang membuat perfilman Indonesia pada 2007-2015 didominasi film bergenre horor sejenis itu.

Di sisi lain, film-film horor yang menampilkan tempat-tempat seram tertentu juga bermunculan. Beberapa tempat wisata misteri pun diangkat dalam film, seperti dalam film Hantu Jeruk Purut (2006), Rumah Kentang (2012), Mall Klender (2014), ataupun Taman Langsat Mayestik (2014).

Film Horor Kini


Romansa film-film horor masa lalu mulai diangkat kembali. Masa jaya 1981 sampai 1991 kembali dikenang bahkan diolah lagi. Salah satunya adalah film tahun 1982 yang kembali dibuat oleh sutradara Joko Anwar, yakni Pengabdi Setan.

Foto idea.grid.id
Film Pengabdi Setan versi 1982 disutradarai oleh Sisworo Gautama Putra. Joko Anwar begitu berambisi sampai mengejar izin produksi ulang film ini selama 10 tahun lamanya.

Usaha Joko Anwar pun tak sia-sia, terbukti 4,2 juta penonton mau menyaksikannya. Bahkan belakangan, pada Senin (19/2/2018), Joko Anwar mengumumkan bahwa Pengabdi Setan akan tayang di 42 negara, termasuk Belanda, Singapura, Thailand, Spanyol, dan Taiwan.

Keberhasilan Joko Anwar bukan tanpa alasan. Selain karena perkembangan teknologi yang semakin pesat untuk mewujudkan imajinasi, masyarakat juga rindu dan ingin tahu dengan film horor masa lalu.

Pengabdi Setan menjadi salah satu bukti film horor Indonesia mulai membaik kualitasnya. Selain Pengabdi Setan, juga ada Danur: I Can See Ghost pada 2017 yang juga sukses sebelumnya dengan 2,7 juta penonton selama penayangan.

Masyarakat kini semakin peduli dengan karya anak bangsa dan mulai percaya dengan kualitas perfilman Indonesia. Mereka tak lagi menunggu bajakan filmnya, tapi mulai mau menonton di bioskop-bioskop yang ada.

Sumber: Cinemapoetica, IDNTimes, Liputan6 

Labels:

Saturday, June 29, 2019

Sejarah Singkat Perfilm-an di Indonesia

Film-film baru dengan teknologi tinggi bermunculan saat ini. Dengan grafis yang memukau juga cerita yang menarik, membuat film-film yang ada semakin memanjakan penikmatnya.

Ciri film asing yang menonjolkan grafis dan kisah yang cerdas juga Film Indonesia dengan cerita cinta dan komedi yang khas, membuat masyarakat semakin tergugah untuk menghamburkan uangnya di bioskop-bioskop ternama.


Perfilm-an di Indonesia sendiri semakin membaik seiring hadirnya film-film bermanfaat juga cerita yang seru. Seperti The Raid, Laskar Pelangi, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, atau film-film komedi milik Raditya Dika yang tenar di kalangan anak muda menjadi tanda bangkitnya perfilman di Indonesia.

Namun, bagaimana perjalanan film di Indonesia? Apa ada pengaruhnya dengan nasib perfilman kita saat ini yang cenderung "kurang menang" di grafis ketimbang film luar? Berikut saya akan membeberkannya secara singkat mengenai sejarah perfilm-an di Indonesia.


Gambar Idoep



Gambar idoep merupakan sebutan awal untuk film di Indonesia pada saat itu. Masuk pada 5 Desember 1900 di Batavia atau Jakarta saat ini, film dokumenter mengenai perjalanan Ratu dan Raja Belanda di Den Haag merupakan film pertama yang diputar di Tanah Abang (bioskop pertama di Indonesia). Sayang sekali film tersebut tidak banyak diminati karena harga tiketnya yang terlalu mahal. Masalah tersebut membuat harga tiket turun drastis hingga 75% pada 1 Janurai 1901 demi merangsang minat penonton.

Para penonton pun terangsang *eh

Jika sebelumnya hanya film dokumenter, maka pada tahun 1905, film-film cerita mulai bermunculan. Film tersebut didatangkan langsung dari Amerika dan berganti judul setelah sampai di Indonesia menggunakan bahasa Melayu. Film impor ini cukup diminati di Indonesia dan hal tersebut mempengaruhi peningkatan jumlah penonton bioskop pada saat itu.

Baca Juga: Sejarah Film Horor Indonesia

Melihat peluang dari film cerita, Indonesia pun tidak mau kalah dengan turut membuat film cerita yang juga diputar di Bioskop pada tahun 1926. Film pertama ini berjudul Loetoeng Kasaroeng yang diproduksi oleh NV Java Film Company. Sayangnya, film tersebut masih tanpa suara atau bisu. Padahal di benua lain terutama Eropa, sudah bermunculan film-film yang bersuara.

Film berikutnya adalah Eulis Atjih dengan perusahaan yang masih sama dengan film pertama. Seperti efek domino, perusahaan-perusahaan perfilm-an lainnya mulai bermunculan, seperti Halimun Film Bandung produksi Lily van Java dan film Setangan Berlumur Darah produksi Central Java Film Copy (Semarang).


Film Bersuara


Seiring berjalannya waktu, akhirnya film suara muncul pada tahun 1931 dengan judul Atma de Vischer produksi Tans Film Company yang bekerjasama dengan Kruegers Film Bedrif di Bandung. Selama itu, sudah 21 film yang bermunculan baik bisu maupun bersuara. Hal tersebut membuat jumlah biskop meningkat pesat hingga mencapai 227 bioskop di Indonesia pada tahun 1936.

Perfilman di Indonesia terus berkembang seiring waktu dengan datangnya produser Cina untuk membuat film Indonesia yang pada saat itu cukup terkenal karena ciri khasnya yang menghibur. Film sempat mengalami perubahan fungsi pada masa penjajahan Jepang menjadi alat politik demi menyampaikan ideologi pemerintahan Jepang pada masa itu.

Akibatnya perusahaan-perusahaan perfilman yang sebelumnya sudah terkenal ditutup dan sebagian diubah nama sesuai kebijakan pemerintahan Jepang. Hingga Indonesia dapat merebut kemerdekaan, pada saat itu juga perfilman kembali merdeka dengan dibantu para mahasiswa yang juga berperan dalam pembuatan film-film bergenre persatuan dan kebangkitan nasional juga film-film yang dapat membangun bangsa.

Produser Indonesia yang sangat berperan dalam perfilman di Indonesia pada saat itu adalah Djamaludin Malik yang juga mendorong adanya Festival Film Indonesia (FFI) I pada tanggal 30 Maret- 5 April 1955. Beliau juga membentuk Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI) yang lahir pada 30 Agustus 1954. Pada festival tersebut, film Jam Malam karya Usmar Ismail tampil sebagai film terbaik. Film tersebut juga mewakili Indonesia dalam Festival Film Asia II di Singapura. Film terbaik karya Usmar Ismail ini bercerita tentang kritik sosial tajam mengenai nasib para bekas pejuang setelah kemerdekaan.

Hingga pada tahun 80-an produksi film lokal meningkat hingga mencapai 721 judul film dari sebelumnya 604 pada tahun 70-an. Jumlah aktor dan aktris pun turut bertambah begitu pula para penonton. Tema komedi, seks, seks horror, dan film musik mendominasi produksi film pada masa tersebut. Warkop dan H. Rhoma Irama adalah dua nama yang paling ditunggu oleh penonton pada masa itu.

Catatan Si Boy dan Lupus adalah dua film yang juga mencatat sejarah karena sukses meraih banyak penonton dan rekor tersendiri. Namun, film tersebut masih kalah monumental dalam jumlah penonton dengan film G-30S/PKI yang mencapai 699.282 jiwa yang pada saat itu seakan tidak mungkin tertandingi.

Bioskop Dan Film Lokal Sekarat


Perkembangan perfilman yang semakin pesat ini juga berpengaruh terhadap bioskop. Jika sebelumnya dalam satu bioskop terdapat beberapa kelas, kali ini bioskop terpecah menjadi beberapa kelas. Cinemascope berubah nama menjadi Bioskop 21 yang juga berpengaruh terhadap tergesernya film-film lokal karena mutu film yang mulai dipertimbangkan.

Hal lain yang mempengaruhi tergesernya film-film lokal adalah impor dan distribusi film yang diserahkan kepada pihak swasta. Paling parah, film lokal tidak pernah diputar dan hanya film Hollywood saja yang ditampilkan. Ditambah lagi hadirnya stasiun-stasiun televsi swasta yang memutar film-film impor juga telenovela.

[Meski dalam keadaan "sekarat", beberapa karya Garin Nugroho seperti Cinta dalam Sepotong Roti dan Daun di atas Bantal masih mampu memenangi berbagai penghargaan di Festival  Film Internasional!]

Masuk ke tahun 90-an, stasiun-stasiun televisi swasta lagi-lagi mempengaruhi eksistensi dari bioskop dengan adanya sinetron-sinetron yang membuat para pemain juga penonton beralih ke layar kaca. Padahal pada saat itu, ekonomi perfilman di Indonesia begitu terpuruk dengan adanya Laser Disc, DVD, dan VCD yang memudahkan masyarakat untuk menikmati film impor di televisi ketimbang bioskop.


Kemajuan Perfilman


Berkembangnya teknologi yang berdampak ke perfilman Indonesia tidak selalu negatif. Positifnya, film-film independen bermunculan karena hadirnya kamera-kamera digital. Hal tersebut membuat perfilman di Indonesia semakin bervariasi meskipun terbatas bagi yang ingin menontonnya. Kualitas perfilman juga beragam akibat hadirnya kamera digital ini, mulai dari amatir sekali  hingga baik sekali dalam sinematografinya. Terbatasnya penonton disebabkan oleh kurangnya tempat pemutaran film dan biasanya hanya dalam ajang festival saja.

Hingga kini, film Indonesia mulai berderak kembali. Beberapa film booming seperti Ada Apa Dengan Cinta (AADC) yang mengundang banyak penonton juga turut memberi semangat baru bagi perfilman Indonesia hingga dibuat seri ke-2-nya yaitu Ada Apa Dengan Cinta 2 pada tahun 2016 ini, juga The Raid yang go-International, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk yang fenomenal, Laskar Pelangi yang inspiratif, dan film-film lainnya yang tidak kalah hebatnya telah lahir di Indonesia.

Meskipun terkadang terkesan latah dalam pemilihan tema, namun hal tersebut tidak seharusnya membuat industri kreatif juga penonton surut semangatnya demi mendukung majunya perfilman di Indonesia. Selain film-film tersebut, juga hadir film animasi yang tidak kalah hebatnya seperti Huma dan Meraih Mimpi yang kabarnya sudah Go-International pula.

Film-film mungkin terkesan sepele bagi kemajuan bangsa, namun sadarkah kita bahwa pada masa penjajahan sebelumnya film lah yang membangkitkan semangat bangsa. Jadi, mengapa kita tidak bisa kembali bangkit dan membangun bangsa dengan sekedar ke bioskop untuk menonton film lokal ketimbang film luar. Memang menarik untuk menonton film buatan luar, namun bukannya akan lebih menarik jika film lokal bersaing dengan film luar?

"Setidaknya sumbangkan waktu anda untuk menonton film lokal di bioskop dan bersabar menunggu download-an di laptop jika memang anda masih ingin melihat film luar yang katanya top."

Sumber : http://Perpusnas.go.id/

Labels:

Monday, May 13, 2019

Brightburn: Superman Cilik yang Jahat!



Pernah bayangin Superman berusia 12 tahun dengan niat menguasai dunia? Mau belum atau sudah, bayangan itu bisa terjawab lewat film Brightburn.

Dikisahkan, ada seorang anak alien yang diadopsi oleh sepasang suami-istri. Anak ini sangat mirip manusia, sehingga pasutri itu berani mengadopsinya.

Mereka bahagia mengadopsi anak alien itu hingga usia 12 tahun. Pasutri Breyers itu pun menamai anak itu Brandon Breyer (Jackson A. Dunn). Ia tumbuh besar dan jadi anak yang penurut.

Baca Juga: Review Pokemon: Detective Pikachu, Unik Tapi Alurnya Kacau

Awalnya semua berjalan baik-baik saja, namun saat memasuki usia 12 tahun, Brandon mulai menyadari identitasnya. Ia terus mengalami hal aneh dan melakukan hal jahat dengan kondisi setengah sadar.

Saat kondisi Brandon mulai membingungkan, ibunya (Elizabeth Banks) selalu menenangkan. "Aku selalu menyayangimu," kata itu sering terucap dari mulut Elizabeth.


Brandon Jadi Amoral


Namun seiring berjalannya waktu, Brandon semakin menggila dan tak lagi punya rasa. Bahkan, ia tak lagi menganggap orang tuanya sebagai orang terkasih, melainkan musuh.

Film yang diproduseri James Gunn ini pun menjadi cukup menyeramkan karena tingkah Brandon yang berambisi menguasai dunia.

Ia pun menguasai kekuatan yang hampir mirip dengan Superman. Yaitu terbang, mata laser, dan kekuatan yang luar biasa.

(post-ads)

Saat inilah ia benar-benar mirip Superman versi jahat. Misinya selalu sama, ingin membuktikan pada dunia bahwa ia mahluk terkuat.

Sedikit spoiler, ia menghabisi semua orang yang merendahkannya.

Review Singkat Brightburn




1. Kelebihan


Dengan genre horor thriller, film ini cukup berhasil membuat penontonnya ketakutan, apalagi yang takut darah. Jadi, jangan sembarangan nonton film ini kalau kalian takut pembunuhan dan hal-hal sadis.

Namun, alur yang dimainkan dari film ini cukup cerdik dan tidak melulu soal pembunuhan. Ada alur naik dan turun yang membuat film ini tidak membosankan.

"Brightburn" bagaikan paket lengkap bagi pencinta film mendebarkan. Kengeriannya merangkum berbagai elemen, mulai dari teror, misteri, hingga darah.

Efek yang dikemas Sony Pictures memang selalu memukau. Sedikit cacat dan selalu menarik secara komposisi dan grafis.

2. Kekurangan


Satu kekurangan yang sangat mengecewakan dari film ini adalah durasinya yang hanya 90 menit. Durasi selama itu terlalu singkat dan tak cukup menggali sebab dan akibat mengapa Brandon bisa hadir di bumi dan jadi jahat.

Selain itu, kamu tidak akan puas jika berharap ada hal baik yang terjadi. Semua dikemas sesadis-sadisnya tanpa ampun.

Baca Juga: Jika Film Avengers Dibuat Pada Tahun 90an Silam

Oh iya, sebetulnya Brandon bisa memilih mau jadi baik atau jahat, tapi ada banyak alasan untuknya berbuat jahat. Pesan dari film ini adalah, jangan remehkan siapapun dengan cara apapun jika tak ingin celaka di kemudian hari.

Lagi-Lagi Media menilai film ini dengan skor 6/10. Nilai yang cukup untuk film "pengenalan" seperti ini.

Bagi lo yang pengen nonton Superman cilik jahat, "Brightburn" jawabannya! Sudah tayang sejak 10 Mei 2019 lalu. Ajak temen, biar teriak bareng! Hahaha

=========
Foto utama: Brandon Breyer (Jackson A. Dunn) in Screen Gems’ BRIGHTBURN (Sumber Instagram)

Labels:

Friday, May 10, 2019

Review Pokemon: Detective Pikachu, Unik Tapi Alurnya Kacau

Review Film Pokemon: Detective Pikachu, unik tapi alurnya kacau



Pengemasan unik, dengan animasi ciamik, namun alurnya terburu-buru dan sedikit membingungkan. Itulah review singkat dari kami.


Film yang telah tayang sejak 8 Mei 2019 ini, bisa dibilang lebih baik tapi juga lebih buruk. Lebih baik karena pertama kalinya, Pikachu tampak begitu nyata, bisa berbicara dengan manusia, dan jadi detektif cerdas yang nakal.

Lebih buruk karena alurnya terburu-buru, kisah konspirasi klise, dan akting para aktor yang kurang nendang. Film ini juga tidak memberi penjelasan cukup soal pokemon itu apa, jadi buat yang baru tahu pokemon akan semakin bingung.

Lebih jelasnya, berikut poin-poin yang kami dapat untuk me-riview film Pokemon: Detective Pikachu ini:

1. Pokemon yang Begitu Nyata


Bagi kamu yang sudah menikmati Pokemon sejak tahun 1990-an, pasti terpuaskan dengan tampilan pokemon-pokemon yang begitu nyata. Jelas, harga pembuatannya saja selangit. Wajar.

Selain itu, film ini juga banyak menampilkan pokemon-pokemon favorit dari generasi satu. Tidak hanya itu, bagi kamu pecinta Pikachu, film ini mampu membuatmu tersenyum bahagia, karena suara 'pika pika' khas pokemon berkekuatan listrik ini diisi langsung oleh seiyuu aslinya, Ikue Otani.

Fun Fact: Cerita Detective Pikachu Adaptasi dari Game Nintendo. Film Detective Pikachu akan dirilis pada 10 Mei 2019 di Amerika. Cerita dari film tersebut merupakan adaptasi dari game garapan developer Creatures Inc dengan judul yang sama dan didistribusikan oleh Nintendo.

2. Kekeluargaan


Film ini begitu menekankan kasih sayang keluarga dan pertemanan. Pemeran utama, Tim Goodman (Justice Smith), yang awalnya benci pokemon apapun dapat luluh juga karena kebersamaannya bareng Pikachu.

Baca Lagi: Otak Pemain Gim Pokemon Beda Dari Orang Biasa

Nilai-nilai kekeluargaan juga ditanamkan dari hubungan Tim dengan ayahnya, detektif Harry Goodman. Cocok ditonton bersama anak-anak kamu meski mereka tidak begitu paham kisah pokemon.

3. Alurnya Tidak Jelas


Kisah Pokemon: Detective Pikachu ini dimulai dari Tim yang terpaksa pergi ke Kota Ryme demi mencari ayahnya yang dikabarkan meninggal karena kecelakaan mobil. Namun, Tim akhirnya menemui fakta bahwa Ayahnya tidak meninggal melainkan hilang.

Ia mencarinya bersama Pikachu yang kebetulan bertemu di apartemen yang sama. Ketidakjelasan alurnya mulai terlihat sejak pencarian ayah Tim berlangsung.

Mulai dari bertemu dengan wartawan muda (Kathryn Newton) hingga konspirasi yang terungkap. Kamu akan dibuat heran karena filmnya tiba-tiba saja sudah mau habis.

Bagi kamu yang sering menonton film-film berbau konspirasi, pasti mudah menebak akhir dari film ini. Jadi memang, film ini ditujukan untuk mereka yang rindu dengan pokemon juga anak-anak yang ingin mengenal pokemon --meski dalam film ini, kisah awal mengapa pokemon ada tidak dijelaskan dengan baik.


Fun Fact: Arti Nama Pikachu Pikachu dalam bahasa Jepang diambil dari 'Pika' yang berarti suara sengatan, dan 'chu' berarti tikus. Jadi jika diartikan, Pikachu itu artinya tikus listrik. 

4. Lebih Mirip Film Lawak dan Superhero


Film ini dikemas dengan lelucon-lelucon yang nakal. Pikachu yang dalam film ini bisa berbicara dengan Tim, sering melontarkan lelucon-lelucon nakal. Ia tidak terlihat seperti Pikachu yang polos dan imut, melainkan anak tongkrongan yang senang menggoda wanita.

(post-ads)

Selain itu, Pikachu dalam film ini mirip seperti Spiderman yang baru belajar menggunakan kekuatannya. Ia harus percaya bahwa dirinya kuat, baru mendapatkan kekuatannya dan menang. Ya, se-simple itu.

Jadi buat kalian yang butuh tertawa saja, film ini cocok untuk kalian.

5. Akting Para Aktor yang Kurang Nendang


Meski kekeluargaan, namun emosi yang dimainkan oleh Tim masih kurang ngena. Apalagi kisah cinta yang dipaksakan antara Tim dan Kathryn Newton yang membuat fokus film ini sedikit terpecah antara ingin menyelamatkan ayahnya atau mendapatkan perempuan.

Tapi untungnya, para pokemon mampu menghadirkan ketegangan yang cukup. Pikachu, Psyduck, dan Mewtwo berperan banyak dalam film ini. Para pokemon tersebut mampu menghadirkan kelucuan, drama, sekaligus ketegangan.

Fun Fact: Hanya pikachu yang mampu mengalahkan Pokemon legendaris. Jangan salah! Walaupun Pikachu terlihat mungil dan kecil, ternyata Pikachu mampu mengalahkan Mew dan Mewtwo, kedua Pokemon tersebut adalah Pokemon legendaris terkuat yang ada di dunia Pokemon. Tidak hanya itu, Pikachu juga pernah melawan Latios dan Ho-oh di serial kartunnya.

Nilai:


Itulah beberapa review singkat dari kami. Rating yang kami berikan untuk film ini adalah 7 dari 10. Angka yang cukup untuk animasi yang mahal dan kelucuan yang membuat terbahak-bahak.

Rate    : 7.3/10 via IMDb
Genre  : Animation, Action, Adventure
Durasi : 1 jam 44 menit

Untuk diketahui, film ini dimotori oleh Rob Letterman, seorang sutradara animasi yang pernah menggarap beberapa film animasi seperti Shark Tale dan Monsters vs Aliens. Naskah Pokemon Detective Pikachu ditulis oleh Letterman dan Nicole Perlman berdasarkan cerita asli karya Tomokazu Ohara dan Haruka Utsui.

Animasi dan efek visual (vfx) dari film tersebut diproduksi oleh berbagai vendor yang dipimpin MPC dan Framestore di bawah arahan supervisor vfx Erik Nordby.

Labels:

Wednesday, May 8, 2019

Jika Film Avengers Dibuat pada Tahun 90an Silam


Avengers: End Game banyak dibicarakan belakangan. Kisahnya yang kompleks dan dramatis menjadikan serial superhero ini meraup keuntungan tertinggi dibanding film-film lainnya yang pernah dibuat oleh Marvel.


Kini, Avengers: End Game pun telah menjadi film terlaris kedua sepanjang masa.

Namun, bukan hanya kisahnya yang kompleks dan dramatis yang jadi nilai jual dari film ini. Melainkan juga teknologi CGI-nya yang begitu memukau dan nyata.

Marvel begitu berhasil mewujudkan imajinasi banyak orang soal dunia luar angkasa, kekuatan luar biasa, sampai teknologi di luar nalar kekinian.

Tentu hal itu juga didukung kemajuan teknologi yang begitu pesat saat ini, sehingga semua bisa tersusun lebih rapih dibanding puluhan tahun lalu.

Melihat hal tersebut, ada saja yang terpikirkan untuk membuat Avengers versi lawas. Dengan begitu, efek video dan teknologinya tidak terlalu menggila seperti sekarang.

Adalah akun Youtube What's the Mashup yang berhasil membuat trailer film Avengers ala tahun 90-an. Mereka tidak hanya mengemas Avengers dengan efek video jadul, melainkan para pemerannya pun jadul.

Para pemerannya seperti Tom Cruise, Brad Pitt, Jeff Goldblum, Keanu Reeves, Elijah Wood, dll. Narator di dalam film tersebut juga benar-benar gaya lama, dengan pembawaan tegas dan suara bass.

Mau lihat videonya? Ada di bawah ini:


Labels:

Tuesday, February 19, 2019

Alita: Battle Angel Kuasai Box Office

Review Film Alita Battle Angel Kuasai Box Office, Rating Film, Pendapatan Film Alita: Battle Angel


Lagilagi.in -
Meski belum mendapatkan perhatian besar di pasar domestik, Alita: Battle Angel berhasil mendapatkan 94,3 juta dolar AS (Rp1,3 triliun) dari 86 pasar internasional. Bahkan, diperkirakan pendapatan tersebut akan terus naik minggu depan.

Alita: Battle Angel berhasil memimpin box office minggu pertama penayangan dengan kisaran pendapatan 27,8 juta dolar AS (Rp391,8 miliar) di 3.790 layar lebar kawasan Amerika Utara. Pendapatan Alita: Battle Angel diyakini terus meningkat, mengingat dua pasar besar seperti Tiongkok dan Jepang akan menayangkan film ini minggu depan.

Film yang diproduksi Fox ini memakan biaya produksi yang cukup besar, yaitu 170 miliar dolar AS (Rp2,3 triliun). Harga itu cukup menjawab alasan mengapa film 3D ini begitu canggih dan memikat.

Dua sineas ternama, yakni produser James Cameron dan sutradara Robert Rodriguez telah berkolaborasi selama lebih dari satu dekade demi film ini. Untuk diketahui, Cameron adalah orang di balik film Blockbuster, Titanic (1997) dan Avatar (2009). Sementara Rodriguez menggarap, Sin City (2005) dan Spy Kids (2005).

Asal Usul Alita: Battle Angel 




Film Alita: Battle Angel diangkat dari manga atau kartun Jepang berjudul Gunnm (dibaca "Ganmu" atau "senjata impian"). Manga itu pertama kali terbit pada 1990 dan dibuat oleh Yukito Kishiro.

Semenjak saat itu, seniman-seniman Jepang kerap merilis manga dan anime berlatar futuristis dengan set yang kelam.

Adapun film Alita: Battle Angel berkisah tentang seorang perempuan muda bernama Alita (diperankan oleh Rosa Salazar). Ia sempat rusak dan terbangun tanpa ingat apa pun soal masa lalunya.

Ia pun dirawat Dokter Ido (Christoph Waltz) yang yakin bahwa Alita adalah manusia buatan dengan hati dan jiwa seorang perempuan tangguh di masa lalu.

Pendapat Kritikus



Meski keuntungannya terus meningkat, namun menurut pendapat kritikus, Alita: Battle Angel dianggap biasa saja. Melihat penilaian yang di dapat dalam situs Rotten Tomatoes, film ini hanya mendapatkan 59 persen. Sekitar 92 dari 223 kritikus menganggap Alita buruk.

Nilai rata-ratanya adalah 6 dari 10 poin. Kesimpulan kritik dari Rotten berbunyi, "Kisah film ini kesulitan mengejar efek spesialnya, tapi penggemar film aksi fiksi ilmiah nan futuristis mungkin akan lebih dari terhibur."

Meski begitu, tidak sedikit pula yang memuji film Alita: Battle Angel. “Alita didukung oleh ide James yang visioner, apa yang disajikan di film adalah ide yang ditulis olehnya,” unggah Radheyan Simonpillai dari CTV's Your Morning.

Berikut adalah 10 film box office:

1. Alita: Battle Angel – US$ 27,8 juta
2. The Lego Movie 2: The Second Part – US$ 21,2 juta
3. Isn’t It Romantic – US$ 14,2 juta
4. What Men Want – US$ 10,9 juta
5. Happy Death Day 2U – US$ 9,8 juta
6. Cold Persuit – US$ 6 juta
7. The Upside – US$ 5,5 juta
8. Glass – US$ 3,8 juta
9. The Prodigy – US$ 3,1 jutta
10. Green Book – US$ 2,7 juta

Labels: ,