<data:blog.pageTitle/>

This Page

has moved to a new address:

https://lagilagi.in

Sorry for the inconvenience…

Redirection provided by Blogger to WordPress Migration Service
Lagi-Lagi In - Media nyentrik, minim intrik, sedikit menggelitik.

Friday, February 7, 2020

[Puisi] Tiga dari Ayah



1/
Di hutan-hutan Baturraden, kita memanjat pohon. Kau gendong aku di pundakmu, kemudian berurutan menjadi adik-adikku, dan Ibu di belakang untuk menjaga mereka agar tidak jatuh.

Kemudian, hari berubah abu-abu. Tetes hujan jatuh menjadi beku tanpa pernah mencair lagi. Kau putuskan untuk pergi, dan celakalah bagiku.

Bukan karena aku menyayangimu, apalagi mencintaimu. Sama sekali bukan. Itu karena, aku anak pertama, wanita, dan adikku ada tiga. Tak ada yang lebih celaka daripada itu. Aku tak lagi bersandar pada pundakmu, tapi mereka tetap bersandar pada pundakku. Berat sampai kakiku kesemutan.

Di tengah jalan, angin bilang bahwa aku harus menjadi ayah bagi adik-adikku meskipun aku bukan seorang laki-laki. Aku juga harus menjaga ibu seperti seorang suami. Sekarang, Ayah, jika aku harus mengambil peranmu dan sibuk menjadi seseorang bagi orang lain, lantas:

Siapa aku untuk diriku sendiri?

Bukan, Ayah.

Bukan siapa-siapa.

2/
Libur lebaran, kau ajak aku pergi ke Glagah, hamparan laut yang hanya bisa dinikmati pasirnya. Kubilang, aku ingin berenang, tapi kau melarang. Ombak terlalu ganas untukmu, katamu.

―aku hanya pura-pura mengerti.

Ombak datang, sebatang ranting terkulai di bawah kakimu. Kau menggilasnya tapi tak sampai lumat; hanya membuatnya tercerai-berai. Kau tertawa, sambil bilang tak sengaja. Lalu, tanganmu bergerak mengambil patahan-patahan yang masih tersisa, menulis b-a-h-a-g-i-a di atas butir-butir pasir untuk kueja, tetapi aku? Aku gagap membaca.

Kemudian, Ayah, ombak sampai. Merayap di bawah jemari kaki kita, menyapu bersih seluruh maknanya.

―aku benar-benar mengerti.

3/
Ayah seorang pendongeng, aku seorang penggubah. Dalam panggung sandiwara yang kami mainkan bersama, aku adalah Malin Kundang versi wanita dan ia sebaliknya. Sebab durhaka, aku berubah jadi batu. Batu berlumut. Kadang berpasir, kadang berdebu, kadang hanya batu, kadang juga lebih parah dari itu.

Tapi sejak awal, aku hanya ketiadaan yang merasuki sesuatu dan menjadi orang lain. Aku adalah seorang ayah, aku adalah seorang suami, aku adalah batu, serigala, domba, keledai, debu… aku adalah segala hal yang bukan diriku.

Jadi, mengapa harus aku menyesal saat menjadi batu karenamu?


Jakarta, 7 September 2017
18:29

Labels:

[Puisi] Menepi di Pantai



Kami pernah singgah di pantai belakang masjid, dengan pasir putih dan kerang-kerang yang masih hidup. Usiaku sepuluh waktu itu, atau kurang, dan aku menginginkan yang lebih dari sekadar pasar ikan.

Aku ingin sekali bicara pada ikan-ikan selain yang ada di aquarium rumah kami. Jadi, setelah mencari yang besar-besar dan segar-segar untuk dibakar, katanya, kita akan membakar kulit kita juga di bawah terik matahari, di atas butir-butir pasir, atau menenggelamkan diri kita seutuhnya pada selimut laut. Dan, pantai bagiku selalu sama seperti dulu.

Asinnya tak seberapa dibanding pahit yang tersisa pada dinding tenggorokanku. Airnya selalu buat mataku panas, merah, dan berdarah. Persis seperti saat aku menangis karena istana pasirku dihancurkan anak kecil lain, persis seperti saat aku harus beranjak dari bibir pantai untuk pulang ke Jakarta.

Seharusnya, siang itu kami tak usah singgah. Biar jejak-jejak kami tak tertinggal di atas pasir. Sebab setelahnya, aku tak pernah benar-benar pergi dari tempat yang selalu memanggil-manggil namaku itu. Pantai jadi seperti hantu yang menggangguku melulu, dan aku mengasihani diriku karenanya, dan aku jadi merutukimu selamanya.

Pantai bagiku adalah bekas kepergianmu.[]

=================================

Karya: Elva Mustika Rini
Blog: https://monologmegabintang.wordpress.com
Instagram: @elvocado

Labels:

[Puisi] Persimpangan



mungkin saat tanganmu mencoba mengamit tanganku
lalu jari-jari kita bertautan
–aku sedang menggali lubang kuburanku sendiri
berharap bisa tenang beristirahat di dalamnya

kau adalah bumi tempat kepalaku bersandar
pada genggamanmu cinta mengenai diriku
seirama tarikan nafas
yang dipompa paru-paru

barangkali, nanti, takdir memintas jalan
ke arah matahari tenggelam
dan angin memaksaku berakhir
tidak dalam tanahmu

pada saat itu, sayang,
sudikah kau mengurai rambut kusutku
dan mengecup tanganku
sekali lagi?

Jakarta, 3 Juni 2019

05.00

=================================

Karya: Elva Mustika Rini
Blog: https://monologmegabintang.wordpress.com
Instagram: @elvocado

Labels: